Que Sera Sera




emalam  ini, aku  tidak  tidur. Sampai matahari pagi menyinari separuh ruang pribadinya, aku tetap   tak
tidur walau mata ini terpejam. Aku tidak bisa. Tidak bisa karena desahan itu membuatku terlena dalam bara panas malam. Tidak bisa karena dengkurannya menggangguku.
Sangat berisik, suara itu begitu dekat disebelah kupingku. Tidak bisa karena kepalaku diperas pikiran-pikiran tentang malam ini, hingga membuatku jatuh ke dalam lamunan panjang yang entah kapan berakhir.

Ia tidur, lelap. Lelah karena semalam. Tak digubrisnya silauan mentari. Karena mata itu tidak nyalang, terpejam dengan tenangnya. Hanya tangannya tetap merangkulku, dimana kepalaku bersandar. Mungkin ia tidak merasakan lagi kehadiranku di sana. Ia tidur. Begitu lelap. Dan aku menunggu waktu bangunnya, memperhatikannya lekat- lekat, menatapnya tak menyangka ia begini. Aku bersabar. Menanti ia sadar.

Banyak yang aku pikirkan. Begitu jauhnya aku dan ia terperosok ke dalam lubang hati. Tapi, apa benar hati yang bermain  di  sini?  Lamunanku  berkata  ini  bukan  lagi tentang perasaan. Aku dan ia sudah terjerat syahwat. Dan aku menjadi kuatir. Berpikir setelah ini apa yang terjadi hanya akan membuat hatiku terluka. Tersayat perih. Mungkin saja, setelah mendapat semua kepuasaan dari seorang perempuan bodoh sepertiku, ia akan pergi meninggalkanku. Lamunan buruk. Sungguh tidak membantu menenangkan batin ini.  Desahan… dengkuran… dan lamunan. Warna malam ini hingga siang menjelang.

Tidak ada komentar untuk "Que Sera Sera"