Terdampak Impor, Petani Garam Kelimpungan

MENGADU: Perwakilan Kugar Tirta Petani mengadukan nasib kepada Asisten II Setda Jepara Mulyadi.

JEPARA – Petani garam di Kabupaten Jepara kelimpungan. Mengingat, hasil panen tahun lalu belum terjual. Kini para menghadapi memasuki masa produksi. Sehingga mereka kesulitan untuk modal produksi.

Belum lagi, harga garam saat masih jauh dari harapan mereka. Untuk itu, para petani yang tergabung dalam Kelompok Usaha Garam Rakyat (Kugar) Tirta Petani mengadu nasib ke Plt Bupati Dian Kristiandi pada Selasa (5/5/2020). Namun, kedatangan mereka diterima Asisten II Setda Jepara Mulyadi.

Lafiq, Ketua Kugar Tirta Petani, Desa Panggung, Kecamatan Kedung mengeluhkan hasil panen tahun lalu belum laku dijual. Hal itu ditengarai terpengaruh kebijakan impor garam. Kebijakan tersebut dinilainya membuat harga jual garam di tingkat petani terpuruknya.

Petani, imbuhnya, bisa meraup untung apabila harga garam di atas Rp 380 per kilogram. Perhitungan itu berdasarkan biaya produksi. Setiap satu hektare membutuhkan dana sekitar Rp 41,8 juta. Dengan asumsi musim garam sekitar lima bulan mampu memproduksi 110 ton garam. “Biaya produksi per kilogramnya mencapai Rp 380,” papar Lafiq.

Tetapi, harga garam saat ini berkisar Rp 200 hingga Rp 250 per kilogram. “Itupun harga yang dekat jalan," keluhnya.

Dengan harga jual Rp 250 per kilogram dikalikan produksi 110 ton, jelasnya, petani masih rugi sekitar Rp 14 juta. “Di samping itu, stok hasil produksi tahun lalu terancam turun kualitas. Karena rendahnya penyerapan,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Asisten II Setda Jepara Mulyaji merasa prihatin. Pihaknya tidak bisa berbuat banyak soal impor garam. “Kami akan usulkan kepada pemerintah pusat agar mengurangi impor garam,” ungkapnya.

Pemkab, tambhanya, akan membuka komunikasi dengan salah satu industri di Jepara. Guna menjajaki peluang penyerapan garam lokal. Selain itu, pemkab akan memberikan bantuan karpet geomembran untuk sebagian kelompok petani garam. (epi)

Tidak ada komentar untuk "Terdampak Impor, Petani Garam Kelimpungan"